Seperti musim tahun ajanran baru tahun sebelumnya, pada musim kali ini pengrajin tas di Kebumen kebanjiran order karena banyaknya permintaan. Seperti dikutip dari suara merdeka.

Menjelang tahun ajaran baru sekolah, para perajin tas sekolah di Kebumen kewalahan melayani permintaan dari pelanggan. Permintaan tas sekolah naik tajam dibanding dengan hari biasanya. Untuk itu banyak pekerja yang lembur untuk menggenjot produksi untuk memenuhi pesanan.

Seperti di salah satu rumah industri milik Sugiyanto (38) di Desa Bojongsari Kecamatan Alian, Kebumen, masih pekerja tampak sibuk menyelesaikan pembuatan berbagai produk tas sekolah. Padahal, sebenarnya pada hari itu, sebagian besar
pekerja mendapat jatah libur mingguan. Namun mereka tetap bekerja untuk menggenjot produksi dan tentunya menambah penghasilan harian.

Meski demikian, Sugiyanto mengaku, sebanyak 50 orderan tidak sanggup ia penuhi. Hal itu terbentur dengan tenaga dan modal yang dimilikinya. Sehingga ia pun mengerjakan pesanan sepanjang yang sanggup kerjakan.

Dengan 16 karyawan, dalam sehari kapasitas produksi tas miliknya baru mencapai 15 kodi (300 biji) per hari. Ia pun menggandeng dua orang mitra usaha untuk menambah kapasitas produksi. “Namun tetap saja, ia masih kewalahan untuk memenuhi pesanan dari Jawa Barat hingga Sulawesi,” kata Sugiyanto saat ditemui Suara Merdeka di kediamannya.

Peningkatan permintaan, imbuhnya sudah terjadi sebelum musim liburan. Terutama dari dari luar Jawa meminta tiga bulan lebih awal. Sebab jika mepet, ditakutkan apabila terjadi kendala dalam pengiriman barang. “Permintaan tahun ini meningkat sekitar 20 persen ketimbang tahun lalu,” ujar pria memproduksi tas sejak tahun 2000 tersebut.

Menurut bapak tiga anak itu, ada dua kendala yang dihadapinya. Yakni sulitnya mencari tenaga yang profesional serta modal yang mencukupi untuk mendukung usahanya.

Kalau hari itu ia diberi modal Rp 500 juta, ia pastikan uang tersebut bisa habis untuk modal usahanya. “Sebab satu kiriman tas mobil box senilai Rp 40 juta,” katanya menyebutkan harga tas ke grosir bervariasi antara Rp 11.000 hingga Rp 30.000 per biji.

Soal tenaga, kesulitan itu dikarenakan dalam memproduksi tas miliknya pekerja masih membuat tas dari proses awal hingga akhir. Untuk itu ke depan, secara bertahap ia akan berganti pola dengan penggarapan per bagian.

“Dengan cara itu, untuk mengajari orang yang mau bekerja tidak membutuhkan waktu yang lama,” kata suami Efi Riyanti (31) berharap akan semakin banyak pekerja yang bisa terserap.

Peningkatan produksi juga dialami sejumlah pengusaha tas lainnya. peningkatan produksi cukup berfariasi. Namun rata-rata diantas 100 persen dari hari biasa. Bahkan sejumlah perajin peci di Desa Bandung Sruni, menjelang tahun ajaran baru sekolah ini banyak yang beralih memproduksi tas.

Mereka mengaku melihat peluang. Kalau yang lagi ramai tas, mereka juga memproduksi tas. Namun saat ini para perajin peci di kawasan itu sudah persiapan memenuhi permintaan peci untuk bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri.

Pengunjung juga membaca artikel: