Halaman berikut hasil copas 100 % dari sini bahkan tanpa ijin copas

(saking cintanya sama kebumen, sedih lihat kayak gini I dont know)

Sejak memulai musim tanam kedua, para petani di Kebumen, khususnya di Desa Pucangan Kecamatan Ambal mengeluhkan serangan hama keong emas (Pomacea canaliculata) terhadap tanaman padi muda mereka. Hama pemarut jaringan tanaman itu pun menimbulkan kerusakan pada masa awal tanam.

Salah satunya dialami Sugito (34) petani asal Desa Ambalresmi yang menyewa lahan di Pucangan . Kendati baru seminggu tanam, bibit padi jenis ciherang di sawahnya sudah rusak akibat keong emas. Dia pun terpaksa melakukan penanaman ulang. ”Kalau serangan keong mengganas, penanaman bisa dilakukan sampai 2-3 kali dalam satu musim tanam,” ujar Sugito kepada Suara Merdeka, kemarin.

Jika sudah demikian, kata dia, kerugian akibat hama itu sudah dirasakan petani. Sebab petani terpaksa dua kali kerja. Selain itu, petani juga harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar buruh tani. Akibat lainnya, penanaman ulang itu mambuat pertumbuhan padi tidak serempak. Dampak lanjutannya, musim panen tidak bisa serempak. ”Ancaman terparah, produkvitas tanaman menurun,” ujar Sugito yang bercocok tanam di lahan seluas 250 ubin.

Untuk mengurangi populasi hewan yang biasa disebut siput murbei itu, dia dan petani lain di Desa Pucangan harus mengumpulkan keong itu secara manual. Dalam sehari, satu sak keong atau 60 kg pun terkumpul. Keong emas itu dimanfaatkan untuk pakan ternak lele atau pakan bebek. Namun ada juga petani yang hanya membuangnya di tengah jalan.

Pengunjung juga membaca artikel: