Berita Kebumen. Bagai tersambar petir, pas buka suara merdeka.com, membaca tagline berita Tiga Warga Kebumen Positif HIV/AIDS.

Salah siapa ? Harus bagaimana ?

Pertama adalah kita harus instropeksi, kedua salah dan tidak, saya yakin si penderita menanggung akibat yang luar biasa yaitu malu dan kecemasan yang amat sangat. Ketiga adalah kita harus memperlakukan dia sama seperti yang lain.

Ya, semoga ini jadi perhatian buat semua untuk mewaspadai penyebaran virus mematikan ini. Berikut petikan dari sumber berita :

Jumlah kasus HIV/AIDS di Kebumen bertambah. Tiga orang warga Kebumen dinyatakan positif terinfeksi virus HIV/AIDS. Ketiga warga tersebut dirujuk ke RSUD Banyumas untuk mendapatkan Anti Retroviral (ARV) untuk membantu sistem kekebalan tubuh.
Dengan demikian, hingga Juli ini tercatat 12 kasus HIV/AIDS. Sebelumnya terdapat sembilan kasus dan lima diantaranya meninggal.
Ketiga orang dengan HIV/AIDS (ODHA) itu terdeteksi setelah mereka menjalani konseling dan tes di Klinik Voluntary and Counseling Test (VCT) RSUD Kebumen. Sejak diresmikan akhir April lalu, sebanyak lima orang dengan risiko tinggi yang melakukan kunjungan ke Klinik VCT.
Konselor Klinik Penanganan Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (PKKPA) dan VCT  RSUD Kebumen Yulaida PSi mengatakan, setelah dilakukan tes darah diketahui seorang dinyatakan negatif. Sedangkan tiga orang dinyatakan positif terinfeksi HIV/AIDS. “Dua orang pasangan suami istri dan satu orang istri,” ujar Yulaida kepada Suara Merdeka, Rabu (23/7).
Yulaida menambahkan, seorang lagi masih dalam fase jendela. Belum bisa dipastikan apakah positif atau negatif. Diperlukan pemeriksaan lagi untuk mengetahui kepastian. Namun ada potensi terinfeksi HIV/AIDS karena pasangannya telah terinfeksi.   
“Ketiga orang yang sudah dinyatakan positif HIV/AIDS itu dirujuk ke RSUD Banyumas, karena RSUD Kebumen belum dilengkapi dengan klinik khusus penderita HIV/AIDS,” ujarnya sembari menyebutkan ketiga pengidap HIV itu termasuk kelompok resiko tinggi karena sering melakukan hubungan seksual yang tidak aman.
Lebih lanjut, Yulaida mengimbau kepada warga dalam kategori resiko tinggi seperti pecandu narkoba terutama yang menggunakan jarum suntik dan pelaku seks bebas, kata dia, memang harus melakukan VCT. Sehingga bisa terdeteksi jika terinfeksi virus HIV/AIDS. “Tes darah dilakukan di PMI Cabang Kebumen,” ujar wanita berkerudung.
Masyarakat terutama kelompok resiko tinggi tertular HIV/AIDS sampai saat ini masih enggan ke klinik yang . Salah satunya karena stigma negatif bahwa orang yang berkunjung ke VCT berarti terinfeksi HIV/AIDS. Padahal belum tentu, karena harus dites darah lebih dulu. “Tes darah dilakukan sebelum ke VCT dan setelah dari VCT,” jelasnya.
Jumlah kasus HIV AIDS dimungkinkan bertambah, karena banyak masyarakat yang enggan memeriksakan diri ke klinik VCT. “Ada yang sudah memeriksakan diri namun tidak mau melihat hasilnya,” tandas Yuli.

Yah, sebuah keprihatinan tersendiri, di kota kecil dan mungil HIV dan mulai datang.

Pengunjung juga membaca artikel: